Pelaku industri otomotif tampaknya enggan disalahkan akan tingginya tingkat kemacetan yang ada di Indonesia, khususnya Jakarta. Pasalnya, kemajuan industri otomotif yang cukup tinggi juga mengalirkan pajak yang cukup tinggi untuk negara. Hal ini disampaikan oleh Johnny Darmawan, Presiden Direktur PT. Toyota Astra Motor.
![]() |
| Macet Jakarta |
“Ini sebenarnya seperti debat pak kusir yang tidak akan ada ujung pangkalnya. Seharusnya, kita sebagai pelaku industri otomotif duduk bersama dengan para pejabat yang mengurusi jalan untuk mengatasi kemacetan ini,” ungkapnya.
Baginya, banyak solusi untuk mengatasi kemacetan di jalan. “Traffic Management di Indonesia itu sangat kacau. Coba saja lihat di negara lain, mana ada mobil bisa muter dimana-mana. Semua lokasi putaran itu jaraknya jauh-jauh,” ungkapnya. Ia juga mencontohkan perilaku pengemudi Indonesia yang kurang disiplin. “Di dunia ini, mana ada yang bisa nyalib dari sisi sebelah kiri? Di Indonesia ini justru banyak terjadi,” tambahnya.
Selain itu, Johnny juga memberi masukan bahwa mobil-mobil yang sudah tua (lebih dari 10 tahun) seharusnya tidak boleh lagi masuk ke Jakarta. “Hal ini sudah banyak dilakukan di negara-negara maju dan ternyata berhasil. Apabila tetap mau menggunakan mobil tua, maka mobil tersebut kena pajak yang lebih tinggi dan mesinnya harus dirubah semua agar kualitasnya sama dengan mobil di bawah 10 tahun,” ujarnya.
Yang paling ia sayangkan adalah kurangnya pertumbuhan jalan di Indonesia jika dibandingkan dengan pertumbuhan industri otomotif Indonesia. “Mobil itu pajaknya paling besar, memberikan devisa yang paling besar untuk bangsa. Nah kenapa pajaknya tidak dibuat untuk membangun jalan saja?” pungkas Johnny.
Pertumbuhan industri otomotif memang cukup tinggi. Rekor penjualan tertinggi terjadi pada tahun 2012 yang berhasil mencapai angka 1,1 juta unit. Sementara itu, pasar industri otomotif diperkirakan stagnan pada angka 1,1 juta unit pada tahun ini.
